Nusantara di Jogja

bn2013_00

Ketika banyak yang sepakat dengan nama Blogger Nusantara sebagai representasi “blogger Indonesia”, maka di saat itulah penyempitan kebesaran Majapahit tengah berlangsung. Bagi seorang Gadjah Mada, Nusantara tidak hanya sebatas Indonesia. Pada masanya, Nusantara meliputi hampir seluruh wilayah Indonesia saat ini ditambah dengan Tumasek, Sabah, Serawak, Brunei, Kepulauan Moro dan sekitarnya. Maka Blogger Nusantara selayaknya merepresentasikan blogger Asia Tenggara bagian Selatan. Kenyataan pengkhususan Nusantara sebagai Indonesia merupakan pengkerdilan sejarah. Begitu kira-kira kesalahkaprahan Nusantara. Terlepas dari kesalahkaprahan pemakaian Nusantara, Kopdar Blogger Nusantara memang sebenarnya bersifat inklusif. Sekiranya ada blogger di sekitar Nusantara berkenan hadir tentu saja diperbolehkan. Eh, barangkali ada blogger Singapura, Malaysia, Brunei, atau Filipina tentu saja dipersilahkan, monggo. Meskipun kok jebulannya saya tidak menemui seorangpun bule Asia Tenggara yang muncul di acara BN2013. Continue reading

Farewell Party

Salah satu teman kantor saya resign setelah sekian tahun lamanya berkarya di tempat saya bekerja. Pesta perpisahan yang meriah bukan berarti kami senang salah seorang diantara kami pergi. Barangkali kami akan merasa kehilangan, tapi barangkali salah satu diantara kami (cq: mbak nur) jauh lebih merasa kehilangan. Ya, meski kadang sekedar pertengkaran ‘gojeg’, pasti akan dirindukan. #eh

Mobil Murah Ramah Lingkungan

Mobil

Gambar Mobil. Sumber: Sahara Laptop

Beberapa bulan lalu masih cukup gencar mengenai pro dan kontra mobil murah yang digelontorkan kementerian perindustrian. Pro dan kontra itu saya rasa masih berlangsung meski sudah tidak segencar pada permulaan peluncurannya. Barangkali saya cukup telat mengunggah tulisan mengenai LCGC (low cost green car) ini. Saya memang kurang bisa memahami apa tujuannya, bagaimana sistematikanya, dan yang paling mendasar adalah definisi dari low cost green car itu sendiri. Continue reading

Trans Jakarta dan Bus Way

transjakartaDi Jakarta, orang mengenal Trans Jakarta bukan sebagai moda transportasi umum. Trans Jakarta mengacu pada Trans TV Studio. Trans Jakarta yang transportasi umum disebut dengan Bus Way. Secara kebahasaan, Bus Way merupakan jalur yang dikhususkan untuk bus, dalam hal ini dikhususkan untuk Trans Jakarta. Akibat dari kesalahan penggunaan istilah tersebut, muncul kesalahan baru untuk menyebut jalur khusus Trans Jakarta. Jalur khusus Trans Jakarta disebut “jalur Bus Way”. Secara bahasa pun sebenarnya “bus way” sudah memiliki makna jalur bus, jadi apabila masih ditambahkan jalur lagi maknanya “jalur jalur bus” atau “jalurnya jalur Trans Jakarta”. Di Jogjakarta juga ada Trans Jogja, orang sekitar Jogjakarta tetap menyebutnya Trans Jogja. Sebenarnya saya lebih senang menyebut Trans Jakarta untuk moda transportasi bus massal di Jakarta. Realitanya saya harus menyesuaikan dan terpaksa menelan kesalahan bahasa dengan menyebut Bus Way setiap kali naik angkot menuju halte Trans Jakarta. Piye Jal?

Ayo Tertib, Jogja Masih Sepeda!!!

JLFR41 (sumber: @teguhriyadi507)

JLFR41 (sumber: @teguhriyadi507)

Kemarin sore, tidak seperti biasanya saya sudah nembung untuk memakai sepeda di tempat tinggal saya untuk bersepeda malam. Ya, kemarin adalah hari Jumat minggu terakhir bulan September. Seperti yang telah dikenal para pesepeda di Jogja, Jumat malam di minggu terakhir setiap bulan adalah saatnya JLFR, Jogja Last Friday Ride. Ribuan pesepeda mancal (istilah untuk mengayuh sepeda) dari tempat tinggal masing-masing menuju Kridhosono dilanjutkan berkeliling sekitaran jalan-jalan di Jogja dan selesai di Jl. Mangkubumi.

JLFR tidak memiliki hierarki siapa yang memimpin, siapa pemiliknya, mana kelompoknya. JLFR itu milik siapapun pesepeda yang merasa memilikinya. Apa yang terjadi selama bersepeda adalah tanggungjawab perorangan yang bersepeda. Tidak ada mekanisme kontrol untuk urusan ketertiban bersepeda di jalan saat JLFR. Tertib tumbuh di dalam pribadi masing-masing pesepeda, sebagaimana pribadi pengendara kendaraan bermotor. Tidak semua pengendar sepeda tertib sebagaimana ada juga pengendara kendaraan bermotor tidak tertib. Untungnya ketidaktertiban antara sesama pesepeda tidak lebih membahayakan dibanding ketidaktertiban antara sesama pengendara kendaraan bermotor. Continue reading